Tuhan…
Seringkali aku keliru
Aku tak mampu mencari tahu
Mana suara-Mu, mana suara yang lain
Aku tak tahu
Apa Kau yang berkata maju
Atau yang lain sedang menyuruhku
Apa Engkau yang mematahkanku
Atau yang lain sedang mengganggu alam pikirku
Tuhan…
Seringkali aku katakan aku kecewa
Bukan… mungkin aku belum mengerti
Mungkin aku marah
Tidak, aku hanya tidak mengerti
Tuhan dan Tuan…
Mereka berkata padaku
Setiap kami dibentuk dari rusuk Adam
Lalu Tuhan…
Kenapa tak Kau kembalikan saja aku pada pemilikku?
Pada yang memang berhak menjadi rumahku
Aku lelah, Tuan…
Harus selalu bertamu pada rumah yang bukan tempatku
Aku ingin pulang,
Pada rumah yang memang seharusnya menaungiku
Oh… mereka katakan padaku
Aku perlu mempelajari banyak hal lebih dulu
Menyelesaikan semua mata pelajaranku
Sebisaku tentu
Namun, mereka berkata padaku
Halaman bukuku masih banyak
Aku tidak pernah benar-benar tahu
Seberapa tebal buku yang harus aku baca itu
Namun, mereka katakan padaku
Nona…
Duduklah dengan manis
Bacalah sekali lagi buku-bukumu itu
Lembar per lembarnya
Kalimat per kalimatnya
Kata… per katanya
Tuan…
Tubuhku, sendi-sendinya mati dan membiru
Sebagiannya sudah habis dimakan masa lalu
Namun, sebisaku... aku tak coba ambil pilu
Aku tetap mencoba mengalir bersama waktu
Tetapi tuan…
Alirannya seringkali membentur tubuhku
Kubik per kubiknya
Tulang belulangnya
Lebam…
Mungkin tidak dengan tubuhmu,
Kau kuat,
Dingin dan benturan itu
Tidak sedikitpun membekukan sel tubuhmu
Tuan…
Aku tak pernah tahu apa yang terjadi pada lautmu
Kau tak pernah mau memberitahuku
Aku ingin sekali tenangkan gemuhnya ombakmu itu
Tuhan dan tuan…
Rasanya dunia begitu bengis padaku
Seringkali aku berpikir
Aku muak selalu dihabisi waktu
Tetapi mereka tetap mencoba meyakinkanku
Aliranku itu tak mungkin terputus waktu
Dia akan mampu mencapai samudra
Tenang di sana
Pada akhirnya...
Comments
Post a Comment